{"id":3620,"date":"2016-10-25T17:23:24","date_gmt":"2016-10-25T09:23:24","guid":{"rendered":"http:\/\/abuubaidillah.com\/?p=3620"},"modified":"2016-10-25T17:23:24","modified_gmt":"2016-10-25T09:23:24","slug":"pergi-berdagang-bersama-paman-tercinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/pergi-berdagang-bersama-paman-tercinta\/","title":{"rendered":"Pergi Berdagang Bersama Paman Tercinta"},"content":{"rendered":"<p>Suatu hari <strong>Abu Th<\/strong><strong>a<\/strong><strong>lib<\/strong> hendak keluar untuk berdagang ke negeri Syam bersama dengan kafilah dagang orang-orang Quraisy. Waktu itu umur <strong>Muhammad<\/strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam <\/em>adalah 12 tahun. Ada juga yang mengatakan 12 tahun, 2 bulan, 10 hari. <strong>Rasulullah<\/strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam <\/em>merasa sangat berat berpisah dengan pamannya tercinta. <strong>Abu Th<\/strong><strong>a<\/strong><strong>lib<\/strong> pun merasa iba dan kasihan kepada kemenakannya itu, <strong>Rasulullah<\/strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam<\/em>. Lalu Beliau pun mengajak Muhammad untuk ikut bersamanya pergi berdagang ke negeri Syam.<\/p>\n<h2>Rombongan pun tiba<\/h2>\n<p>Ketika mereka tiba di kota <strong>Busyro<\/strong> di pinggir negeri Syam, maka tiba-tiba muncullah tokoh dari pendeta nashara. Dia adalah <strong>Bahirah Ar-Rahib<\/strong>. Pendeta itu pun menyusup masuk ke dalam rombongan pedagang Quraisy itu, hingga dia tiba di dekat <strong>Nabi<\/strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam<\/em>, lalu pendeta itu memegang tangan Muhammad kecil. la pun mengatakan: &#8220;<em>Anak ini adalah Sayyidul alamin,\u00a0 dia adalah Rasul Rabb semesta alam, inilah yang Allah utus sebagai rahmat bagi seluruh alam<\/em>&#8220;.<\/p>\n<p><strong>Rombongan<\/strong> kafilah <strong>Quraisy<\/strong> mengatakan:<br \/>\n&#8220;Dari mana engkau mengetahuinya ?&#8221; Pendeta itu menjawab: &#8220;Sesungguhnya kalian ketika mendaki sebuah bukit, maka batu-batu dan pohon-pohon tersungkur sujud dan tidaklah kedua benda itu sujud kecuali kepada seorang <strong>Nabi<\/strong>. Dan aku mengetahuinya dengan adanya cincin kenabian yang ada di antara kedua bahunya.\u00a0 Mirip seperti buah apel. Aku mendapatkan keterangan tersebut dari kitab suci kami&#8221;.<\/p>\n<h2>Kekwatiran Pendeta<\/h2>\n<p>Kemudian pendeta tersebut menjamu rombongan para pedagang Quraisy sebagai tamu kehormatan lalu bertanya kepada Abu Tholib: &#8220;Sebaiknya engkau kembali dan tidak melanjutkan perjalanan ke negeri Syam. Karena dikwatirkan orang-orang <strong>Yahudi<\/strong> dan orang-orang <strong>Romawi<\/strong> akan mencelakakannya. <strong>Abu Tholib<\/strong> pun kembali ke Mekah. <strong>[Raudhatul Anwar karya Syeikh Shafiyur Rahman al Mubarakfuriy hal.13]<\/strong><\/p>\n<h2>Penjelasan Ringkas<\/h2>\n<p>Kisah ini menjelaskan bagaimana sayangnya Abu Thalib dan perhatian beliau yang sangat besar kepada Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam.<\/em> Beliau rela mengorbankan apa saja demi kemenakannya. Namun sayang di dalam sejarah disebutkan bahwa Abu Thalib tidak memenuhi panggilan dakwah <strong>Rasulullah<\/strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam.<\/em> Karena rasa malu beliau kepada tokoh-tokoh Quraisy. Malu untuk meninggalkan agama nenek moyang, malu untuk mengikuti kebenaran, maka sifat malu yang seperti ini membawa kepada kebinasaan Abu Thalib. Disebutkan dalam hadits bahwa <strong>Abu Thalib <\/strong>akan dimasukkan ke dalam neraka. Dan dengan syafaat <strong>Nabi<\/strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam <\/em>dia kan diringankan siksanya.<\/p>\n<p>Dikisahkan ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, <strong>Rasulullah<\/strong> <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> mendatanginya. Di dekat <strong>Abu Thalib<\/strong>, beliau melihat ada <strong>Abu Jahal<\/strong> bin <strong>Hisyam<\/strong>, dan <strong>Abdullah bin Abi Umayah bin Mughirah<\/strong>. <strong>Rasulullah<\/strong> <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> menyampaikan kepada pamannya, \u201dWahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan saksi untuk membela paman di hadapan Allah.\u201d Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah menimpali, \u2019Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?\u2019<\/p>\n<p><strong>Rasulullah<\/strong>\u00a0<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>\u00a0terus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid, namun dua orang itu selalu mengulang-ulang ucapannya. Hingga Abu Thalib memilih ucapan terakhir, dia mengikuti agama Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan\u00a0laa ilaaha illallah.<\/p>\n<p>Kemudian Rasulullah\u00a0shallallahu \u2018alaihi wa sallam\u00a0bertekad, \u201d<em>Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang<\/em>.\u201d<\/p>\n<p>Lalu <strong>Allah<\/strong> <em>subhanahu wata&#8217;ala <\/em>menurunkan firman-Nya di surat <strong>at-Taubah<\/strong>: 113. dan <strong>al-Qashsas<\/strong>: 56. <strong>(HR. Bukhari 1360 dan Muslim 24)<\/strong><\/p>\n<p>Kisah ini juga menjelaskan bagaimana orang-orang nashara, terkhusus para pendeta dan rahib-rahib mengetahui bahwa <strong>Muhammad<\/strong> adalah utusan Allah telah dijelaskan di dalam kitab-kitab mereka Injil, demikian pula dijelaskan di dalam taurat dari kitab orang-orang Yahudi bahwa akan muncul seorang <strong>Nabi<\/strong> dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh <strong>Muhammad<\/strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam.<\/em> Namun karena kesombongan mereka, maka mereka juga tidak menerima dakwah yang dibawa oleh <strong>Nabi<\/strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam <\/em>kecuali yang dirahmati oleh <strong>Allah<\/strong> <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk memahami bahwa hidayah itu datang dari <strong>Allah<\/strong> <em>subhanahu wa ta&#8217;ala<\/em>. Kita meminta hidayah hanya kepadaNya. Karena sedekat apapun kita dengan <strong>Rasulullah<\/strong>, jika Allah tidak memberikan hidayah kepada kita, maka tidak mungkin kita mendapatkan hidayah.<\/p>\n<p><strong>Allah<\/strong> <em>subhanahu wata&#8217;ala <\/em>berfirman,<\/p>\n<div style=\"font-family:AmiriWeb; font-size:28px; direction: rtl; text-align: Right; line-height: 55px;\">\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0643\u064e \u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650\u064a \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u062d\u0652\u0628\u064e\u0628\u0652\u062a\u064e \u0648\u064e\u0644\u064e\u0643\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u064a\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650\u064a \u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0634\u064e\u0627\u0621\u064f \u0648\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0623\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u064f \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0647\u0652\u062a\u064e\u062f\u0650\u064a\u0646\u064e<\/div>\n<p><em>\u201c<\/em><em>Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu <\/em><em>cinta<\/em><em>i, tetapi Allah<\/em><em>lah yang<\/em><em> memberi petunjuk kepada orang yang dikehenda<\/em><em>ki<\/em><em>, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk<\/em><em>\u201d <\/em><strong>[QS. Al Qashash: 56]<\/strong><\/p>\n<p>Semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menjadikan kita orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari kisah <strong>Rasulullah<\/strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam.<\/em><\/p>\n<blockquote><p><strong>Abu Ubaidillah al Atsariy | Muharram 1438 \u2013 25 November 2016<\/strong><\/p><\/blockquote>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendeta itu pun menyusup masuk ke dalam rombongan pedagang Quraisy itu, hingga dia tiba di dekat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, lalu pendeta itu memegang tangan Muhammad kecil.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3621,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[41,42],"tags":[87,498,1425,1536,1858,2169],"class_list":["post-3620","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kisah-dan-pelajaran","category-seri-kehidupan-rasulullah","tag-abu-thalib","tag-dakwah","tag-nashara","tag-pendeta","tag-sirah-nabawiyah","tag-yahudi"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3620","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3620"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3620\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3621"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3620"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3620"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/abuubaidillah.com\/dev2\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3620"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}