Dulu Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,
“Semua amalan manusia adalah miliknya kecuali puasa, karena puasa adalah milik-Ku dan Aku yang akan membalas pahala puasa. Dan puasa adalah tameng”[1]
Ada ibadah yang bisa dilihat oleh manusia seperti shalat, sedekah, dan kebaikan di depan orang. Tapi puasa beda. Sepi, sunyi, hampir tak bersuara. Tidak ada yang benar-benar tahu selain Allah. Kita bisa saja terlihat lemah di hadapan orang, tapi di kamar, di dapur, saat sendiri di situlah kejujuran diuji.
Puasa seperti ruang rahasia antara hamba dan Rabb-nya. Ia menahan tangan dari yang haram, menahan lisan dari yang menyakitkan, dan pelan-pelan meredakan amarah yang biasanya meledak.
Lapar memang terasa di perut, tapi efeknya justru ke hati. Hati jadi lebih peka, doa lebih mudah dikabulakn, air mata lebih gampang terjatuh.
Itulah kenapa puasa disebut tameng. Bukan sekadar menahan makan dan minum, tapi menjaga diri dari dosa. Dan anehnya, ketika badan terasa lemah, justru jiwa terasa kuat. Kita jadi lebih sadar ternyata yang selama ini yang menguasai kita bukan kebutuhan terhadap makan dan minum, tapi keinginan hawa nafsu.
Puasa datang mengajari bahwa kamu bisa hidup tanpa semua itu, walaupun itu kamu lakukan cuma 1 hari. Selama Allah selalu teringat dalam hatimu, sibuk dengan ibadah kepada-Nya, maka kamu tetap akan merasakan kebahagiaan.
______
[1] HR. Bukhari nomor 1904 dari Abu Hurairah
