Masih Berdosa Saat Puasa

Perbuatan-perbuatan itu bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala puasa.

Menahan lapar itu gampang. Menahan emosi, komentar pedas, menahan scroll yang haram atau tidak bermanfaat itu baru puasa beneran.

Banyak orang kuat tidak makan dari subuh sampai maghrib, tapi lisannya tetap menyakiti, matanya tetap keluyuran pada sesuatu yang Allah larang, dan jarinya tetap mengetik dosa. Perutnya puasa, tapi hatinya belum.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”[1]

Ramadhan bukan cuma pindah jam makan. Ramadhan itu latihan jadi pribadi yang bertakwa. Dalam hadits diatas Nabi   ﷺ mengingatkan bahwa puasa bukan cuma meninggalkan makan dan minum. Tapi juga menahan lisan dan anggota badan untuk tidak melakukan perkara yang Allah haramkan. Meninggalkan dusta, menipu, menghina orang lain, mengumpat, mengadu domba, mengucapkan ucapan tidak senonoh, dan lainnya.

Perbuatan-perbuatan itu bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala puasa. Hingga Allah tidak butuh kepada orang itu meninggalkan makan dan minum.

Bukan berarti Allah menyuruhnya untuk membatalkan puasanya atau tidak puasa, tapi sebagai peringatan agar ia menjaga lisan dan perbuatannya. Karena itu bisa mengurangi pahala puasanya.

 Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Majah dimana Nabi ﷺ bersabda

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلَّا الْجُوْعُ

Betapa banyak orang puasa namun tidak ada yang dia dapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar

Kalau setelah puasa kita masih sama seperti sebelum puasa, berarti kita baru menahan perut, belum menahan dosa. Karena hakikat puasa adalah membentuk seorang muslim menjadi orang bertakwa yang mampu meninggalkan dosa.

______

[1] Dikeluarkan oleh Bukhari nomor 1903, Abu Dawud nomor 2362, Tirmidzi nomor 707 dan ini adalah lafadz Tirmidzi, Ibnu Majah nomor 1689, dan lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *