Ilmu agama adalah warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu dicari dan dikumpulkan oleh para penuntut ilmu. Siang dan malam ilmu ini diusahakan, hingga terkadang mereka mengalami kesulitan dan rintangan dalam mendapatkannya. Namun sangat disayangkan jika ilmu hanya sekedar hafalan yang tak diamalkan.
Berkata Ar Rabi’ bin Sulaiman al Muradi rahimahullah (Wafat 270H) bahwa beliau mendengar dari Imam Syafi’I rahimahullah (Wafat 204H) berkata
“Ilmu itu bukan apa yang dihafal, tapi ilmu adalah apa yang mendatangkan manfaat” (Hilyah al Auliya’: 123)
Ucapan ini sangat tepat dikondisi hari ini. Dimana ilmu hanya penghias bibir yang jauh dari amalan. Padahal Allah ta’ala berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Shaf: 2-3)
Di dalam kitab Tafsir Muyassar disebutkan makna ayat ini yaitu: “Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya serta mengamalkan syari’atNya, mengapa kalian menyatakan suatu janji atau mengatakan suatu ucapan namun kalian tidak menunaikannya ? Ini merupakan pengingkaran kepada orang yang ucapannya menyelisihi perbuatannya”.
Do’a Agar Terhindar Dari Ilmu Tak Bermanfaat
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita sebuah do’a agar kita terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat.
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusu’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari do’a yang tidak dikabulkan”[1]
Kisah Seorang Guru
Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi bumerang senjata makan tuan. Ilmunya akan mencelakakan orang yang mempelajarinya. Dalam hadits dikisahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
“Didatangkan pada hari kiamat seseorang lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka usus-usus perutnya terburai keluar. Ia berputar-putar dengan ususnya itu di dalam neraka seperti keladai yang berputar mengelilingi alat penggilingan. Penduduk neraka berkumpul mengelilinginya. Mereka bertanya: “Wahai fulan kenapa kamu ini? Bukankan engkau dulu yang memerintahkan kami kepada yang ma’ruf dan melarang kami dari kemungkaran ?” Orang itu berkata: “Benar, aku telah memerintahkan kalian kepada yang ma’ruf tapi aku tidak mengamalkannya, dan aku melarang kalian dari kemungkaran, tapi aku yang melanggarnya”[2]
Inilah ancaman dan bahaya mereka yang tidak mengamalkan ilmunya, hingga menjadi pengingat bagi kita untuk belajar ilmu agama dengan niat untuk diamalkan dan tidak sekedar dihafal.
———
[1] HR. Abu Dawud nomor 1548 dari Abu Hurairah dan dishahihkan oleh Syeikh al Albani dalam Shahih Abu Dawud
[2] HR. Bukhari nomor 3267 dan Muslim nomor 2989 dengan sedikit perbedaan lafadz dari shahabat Usamah bin Zaid.
