Menyelami Makna dan Keutamaan Hari Tasyriq

Hari Tasyriq adalah 3 hari setelah Idul Adha yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Hari dimana jama’ah haji melakukan mabit (bermalam) di Mina dan melempar jumrah. Tasyriq berasal  dari kata شَرَّقَ الْلَحْمَ yang artinya mengeringkan daging di bawah sinar matahari. Disebut “tasyriq” karena tradisi menjemur daging qurban oleh orang Arab zaman dulu pada hari-hari tersebut.

Al Hafizh Ibn al Hajr rahimahullah berkata: “Dinamakan dengan hari Tasyriq karena daging-daging qurban dijemur di hari-hari tersebut. Ada juga pendapat sebab dinamakan Tasyriq karena hewan qurban tidak dipotong hingga matahari terbit. Namun ada juga pendapat bahwa dinamakan Tasyriq karena shalat Id dilaksanakan saat matahari telah terbit” (Fath al Bari: 4/242)

Hari-hari tersebut termasuk dalam hari-hari istimewa menurut syariat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari-hari Tasyriq adalah hari makan, minum(HR. Muslim nomor 1141 dari Shahabat Nubaisyah al Hudzali)

Dalam Riwayat lainnya dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

أيَّامُ التَّشريقِ أيَّامُ أَكْلٍ وشُربٍ وذِكْرٍ للَّهِ عزَّ وجلَّ

“Hari-hari Tasyriq adalah hari makan, minum, dan Dzikir kepada Allah azz awa jalla” (HR. At Thahawiy dalam Syarh Ma’ani al Atsar nomor 4101, Ibnu Majah nomor 1719, dan Ahmad nomor 7134)

Hadits ini menunjukkan keutamaan hari-hari Tasyrik karena dikhususkan untuk makan, minum, dan dzikir. Bukan dan tidak diperkenankan puasa di hari-hari tersebut[1]. Dia adalah hari lebaran yang dikhususkan untuk makan dan minum.

Allah ta’ala berfirman

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang dibatasi” (QS. Al-Baqarah: 203)

Berkata Imam al Qurtubi [2]

لَا خِلَافَ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْأَيَّامَ الْمَعْدُودَاتِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ هِيَ أَيَّامُ مِنًى، وَهِيَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ، وَأَنَّ هَذِهِ الثَّلَاثَةَ الْأَسْمَاءَ وَاقِعَةٌ عَلَيْهَا

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa hari-hari yang dibatasi dalam ayat ini adalah hari-hari Mina, yaitu hari-hari Tasyrik. Ketiga nama ini (hari-hari Mina, hari-hari Tasyrik, dan hari-hari yang dibatasi) semuanya merujuk pada hari-hari tersebut” (Al Jami’ Li Ahkam al Qur’an: 3/1)

Amalan Di Hari Tasyrik

Di hari-hari tersebut kita disunnahkan melakukan beberapa amalan, diantaranya:

  1. Makan dan minum dengan niat ibadah

Pada hari Tasyrik kita perbanyak untuk memberikan jamuan makanan terutama kepada fakir miskin dengan daging qurban. Memarnai hari itu dengan kegembiraan dan kesyukuran atas nikmat Allah ta’ala.

  1. Banyak berdzikir kepada Allah

Berdzikir diperbanyak terutama takbir, tahlil, dan tahmid. Membacakan al Qur’an juga bisa diprioritaskan serta dzikir-dzikir yang lainnya. Gunakan hari tersebut untuk benyak mengingat Allah ta’ala. Untuk Takbir seseorang disunnahkan untuk taqbir Muqayyad yaitu takbir yang dilakukan setiap selesai shalat 5 waktu, atau takbir Muthlaq yaitu takbir kapan saja dan dimana saja di hari Tasyrik. Ini diantara lafadz takbirnya

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

  1. Menyembelih Qurban

Di hari-hari tasyriq seseorang muslim yang belum berqurban diperbolehakan untuk melakukannya mulai dari tanggal 11 Dzulhijjah hingga sebelum tenggelam matahari atau sebelum Magrib di tanggal 13 Dzulhijjah .

  1. Mabit dan melempar jumrah bagi jamaah haji

Bagi jamaah haji, hari Tasyrik adalah hari-hari melontar tiga jumrah (Ula, Wustha, Aqabah) di Mina.

Hikmah dan Pelajaran dari Hari Tasyrik

  • Membiasakan hati dengan dzikir di tengah kesibukan duniawi.
  • Menghargai nikmat makanan dan kebersamaan.
  • Melatih keseimbangan antara jasmani dan rohani.
  • Momentum penutup dari ritual ibadah Dzulhijjah (Haji, Idul Adha, dan qurban)
  • Membiasakan disiplin dan menjaga waktu
  • Menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan beribadah pada waktunya masing masing.
  • Makan dan minum walau berhubungan dengan dunia namun jika diniatkan ibadah akan mendapat pahala sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.

Seruan Untuk kaum Muslimin

Hari Tasyrik bukan hanya pelengkap Idul Adha, tapi merupakan kesempatan berharga untuk memperbanyak amal dan dzikir. Kita manfaatkan 3 hari tasyrik ini untuk menebar kebaikan, berbagi daging qurban, menghidupkan sunnah takbir dan dzikir.

______________

Bambang Abu Ubaidillah

Selesai tulisan ini pada hari tasyriq bulan Dzulhijjah 1446H.

[1] Kecuali bagi haji Tamattu’ atau Qiran yang tidak mampu hadyu atau menyembelih hewan sesembelihan.  Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam bersabda:

لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ، إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الْهَدْيَ

“Tidak diberi rukhshah (keringanan) berpuasa pada hari-hari Tasyriq kecuali bagi yang tidak mendapat hewan sesembalihan” (HR. Bukhari nomor 1894 dari Abdullah bin Umar)

[2] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Anshari al Qurtubi (wafat tahun 671H. Seorang ulama bermadzhab maliki, ahli Tafsir dengan karya besarnya berjudul Al Jami’ Li Ahkam al Qur’an atau lebih dikenal dengan Tafsir al Qurtubi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *